Bandara Nanga Pinoh Berhenti Operasi Sementara

MELAWI, SKR.COM – Bandar Udara Nanga Pinoh berhenti operasi, Bandara yang sudah berdiri bahkan sejak Melawi belum menjadi sebuah kabupaten ini terpaksa berhenti operasi dan dialihnya, karena ketiadaan penumpang hingga jadwal penerbangan.

Kasi Teknik Operasi dan Pelayanan Darurat Bandara Nanga Pinoh, Sumartono mengakui, bahwa saat ini Bandara Nanga Pinoh memang sepi penumpang. Bahkan, karena tiada aktivitas penerbangan, saat ini diputuskan operasional bandara untuk penerbangan dihentikan sementara.

“Berhenti sementara, tetapi tidak ditutup sambil menunggu informasi lanjutan dari pusat untuk melayani penerbangan khususnya jurusan Pinoh-Pontianak atau Pinoh-Ketapang yang selama ini lebih didominasi pesawat perintis,” katanya saat ditemui sejumlah awak media belum lama ini.

Sumartono melanjutkan, salah satu penyebab sepinya bandara berdasarkan kajian dari Kementerian Perhubungan, Bandara Nanga Pinoh juga dipengaruhi jarak Nanga Pinoh ke Bandara Tebelian Sintang yang terbilang dekat. Jarak tempuhnya hanya memakan waktu satu setengah jam. Apalagi selain itu kondisi infrastruktur jalan sudah baik dan penumpang terjadi penurunan khususnya pesawat ukuran kecil di bandara tersebut.

“Ditambah selain itu minat penumpang lebih memilih bus antar kota dalam provinsi untuk ke Pontianak,” jelasnya.

Sumartono melanjutkan, Bandara Nanga Pinoh berharap kedepan bisa melayani penerbangan utamanya terkait dengan arus mudik lebaran tahun 2019 ini tidak menutup kemungkinan akan mengalami lonjakan.

“Sehingga bisa membantu penumpang yang menggunakan bus atau angkutan darat lainnya dan mengantisipasi lonjakan penumpang di Bandara Tebelian Sintang,” paparnya.

Sementara itu, salah seorang pemuda Nanga Pinoh, Wardana menyayangkan terhentinya operasi penerbangan di Bandara Nanga Pinoh selama beberapa bulan terakhir. Padahal, beberapa waktu lalu, bandara tersebut masih melayani penerbangan baik ke Pontianak maupun Ketapang.

“Memang baru penerbangan perintis, hanya pesawat berpenumpang 12 orang yang biasa mendarat di bandara ini. Tapi kalau rutin dalam sepekan bisa sampai dua kali ada penerbangan juga lumayan,” katanya.

Hanya, diakui Wardana, di masa lalu, tiket pesawat perintis tersebut bisa lebih murah, bahkan dengan waktu tempuh yang singkat ke Pontianak atau Ketapang, penerbangan tersebut tak pernah sepi dari penumpang.“Hanya, mungkin seiring dengan semakin mahalnya tiket pesawat saat ini, penumpang banyak yang memilih menggunakan bus saja,” ucapnya.

Dari berbagai informasi, penerbangan pesawat perintis, seperti oleh Maskapai Susi Air beberapa tahun lalu bisa lebih murah dan terjangkau masyarakat, karena memang tiket pesawat disubsidi sebagian oleh Kemenhub.

Terhentinya operasi Bandara Nanga Pinoh mungkin bisa jadi bukan hal yang mengejutkan. Sepinya penerbangan sejak dahulu membuat Bandara Nanga Pinoh tidak sesibuk bandara perintis seperti halnya di kabupaten tetangga, seperti Sintang dan Kapuas Hulu. Kondisi ini mengingatkan kembali pada masa-masa sebelum era 2010, dimana bandara kerap menjadi tempat jogging, bersantainya masyarakat Nanga Pinoh bahkan dulu kerap menjadi tempat mojok bagi muda mudi.

Pengusaha dan juga warga Pinoh, Irvan menilai, penumpang asal Pinoh sebenarnya bisa dikatakan tidaklah sepi-sepi amat. Namun, ada sejumlah faktor yang membuat masyarakat malas berangkat dari Bandara Nanga Pinoh dan lebih memilih Bandara Tebelian yang berjarak lebih dari satu jam ke Kota Nanga Pinoh.

“Bukan masalah sepi penumpang, tapi penjualan tiket yang tidak jelas, baik di Pontianak maupun di Pinoh. Nah, di Pinoh penjualan tiket tidak jelas dimana loketnya. Kemudian dihubungi via telpon atau sms juga sering tidak digubris,” ujarnya.

Irvan melanjutkan, tak Cuma itu, pelayanan di Pontianak juga sama, terkadang yang jual tiket orangnya berganti-ganti. Juga tidak ada counter check in dibandara.“Check in kadang hanya dilakukan diruang tunggu saja,” papar pemuda yang juga berprofesi sebagai fotografer ini.

Karena ketidak jelasan penjualan tiket, jadwal yang suka berubah / batal, kata Irvan membuat orang malas naik penerbangan perintis. Orang yang punya urusan penting di Pontianak, atau yang punya penerbangan berikutnya ke luar pulau kalimantan, jelas lebih memilih berangkat lewat bandara Tebelian karena jadwal yang pasti.“Padahal kalau dipikir, biaya charter mobil ke bandara tebelian dari nanga pinoh juga gak murah, berkisar Rp 200 ribu – 300ribu sekali jalan,” katanya.

Irvan menyayangkan, layanan penerbangan di Bandara Nanga Pinoh tak maksimal. Padahal Bandara tersebut sudah dilengkapi fasilitas lampu instrumen pendaratan, kendaraan pemadam kebakaran dan menara pengawas atau ATC.“Sayang kalau dibiarkan sia sia seperti ini,” katanya.

Irvan pun berharap, bila benar bandara ditutup, komunitas aeromodelling berharap diijinkan menggunakan bandara untuk aktifitas hobby dirgantara ini, mengingat tak ada lapangan lain yang cukup memadai dan cukup dekat dekat pemukiman sehingga kurang aman.

“Atau sekalian saja dibuka lagi saja untuk masyarakat joging seperti dulu,” pungkasnya sembari bergurau. (DI)

Posting Terkait