DBD Mewabah, Instansi Terkait Diminta Tanggulangi

1481

MELAWI, SKR.COM – Wabah Demam Berdarah Dangue (DBD) di Melawi, khususnya di Nanga Pinoh semakin merajalela. Momok yang mengerikan tersebut kini semakin membuat masyarakat semakin resah, dan khawatir bila penyakit yang dapat mematikan itu menyerang.

Seperti yang disampaikan Anggota DPRD Melawi, Ardeni. Ia mengatakan, baru-baru ini di Desa Baru yang tak jauh berada dari rumahnya sudah ada beberapa anak yang terkena penyakit DBD. Hal itu membuatnya khawatir.

“Rata-rata anak usia sekolah dasar yang terserang DBD. Dalam dua minggu ini sudah tiga orang yang terkena DBD di Desa Baru, bahkan ada yang sudah dirujuk ke Rumah sakit Pontianak,” kata Ardeni menghubungi via Whatsaap, Senin (11/6).

Ia mengatakan, sudah banyak yang terkena DBD, namun sepertinya belum ada tindakan yang efektip dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Jika pun tidak bisa dilakukan fogging, harusnya ada tindakan yang diambil.

“Jika memang 4M Plus tersebut lebih efektip dalam menanggulangi DBD ini. segera datangi lokasi yang terkena DBD, ajari masyarakat dengan memberikan sosialisasi. Sebab masih banyak masyarakat yang tidak mengerti apa itu 4M plus,” katanya.

Sebelumnya, kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Melawi, dr. Ahmad Jawahir mengatakan, kasus DBD mengalami peningkatan beberapa pekan terakhir. Kasus ini pun diketahui juga meningkat di sejumlah daerah di Pulau Jawa.

“Susah mau basmi DBD sekarang. Karena di Jawa pun banyak kasusnya,” ujarnya.

Lebih lanjut Ahmad menilai pembasmian nyamuk penyebab DBD juga sudah tak lagi efektif dengan menggunakan cara fogging atau pengasapan, apalagi saat musim hujan seperti ini. Karena menurutnya, virusnya sudah berevolusi. Jadi tak bisa lagi pake semprot foging.

“Tapi pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 4 M plus. Yakni menguras, menutup, mengubur serta memantau jentik jentik nyamuk. Termasuk juga tidak menggantung baju agar tak menjadi sarang nyamuk,” katanya.

Karena itu, lanjut Ahmad, langkah serupa akan diterapkan di daerah yang endemik DBD, termasuk pada permukiman tempat adanya kasus DBD. Selain penyuluhan 4 M, Dinkes juga akan membagikan Abate pada masyarakat.

“Kalau pun pakai foging itu sama saja dengan buang duit, karena itu sudah tak mempan,” ujarnya.

Dari data yang didapat di Dinkes Melawi, sejak pertengahan Mei lalu terdapat 22 kasus DBD yang terjadi. Jumlah tersebit terdiri terdiri dari 8 perempuan dan 14 laki-laki. Diantaranya sudah ada satu orang yang meninggal, khususnya di Kecamatan Nanga Pinoh.

Jika dilihat dari data Dinkes Melawi, kasus DBD tersebut, yang paling banyak terkena DBD dari usia 5 sampai 15 tahun yakni berjumlah 14 kasus terdiri dari laki-laki 9 orang dan perempuan 5 orang, Sementara usia 15 tahun ke atas berjumlah 5 kasus terdiri dari 3 laki-laki dan dua perempuan, sementara usia 5 tahun ke bawah atau usia balita terdapat 3 kasus, terdiri dari 2 laki-laki dan 1 perempuan.

“Tercatat ada 22 kasus DBD sepanjang 2018 dengan satu korban meninggal dunia. Kasus DBD memang sebagian besar terjadi di desa-desa dalam Kota Nanga Pinoh. Selain Pinoh, kini juga sudah menyebar ke Pinoh Utara, termasuk di Kayan, kemudian sepanjang Ella dan Menukung. kalau untuk kecamatan sepanjang sungai Pinoh nampaknya belum. Jangkauan nyamuk DBD ini hanya berkisar dalam radius 100 meter. Kalau bisa menjangkau lebih jauh, bisa jadi Ia terbawa kendaraan angkutan umum atau kendaraan pribadi,” pungkasnya. (DI)