www.suarakapuasraya.com

Terdepan dalam Informasi

HHBK Potensi Peningkatan Ekonomi, Pengelolaan Terkendala Kapasitas

HHBK Potensi Peningkatan Ekonomi, Pengelolaan Terkendala Kapasitas
Suar Institute ketika melakukan identifikasi HHBK di Hutan Rasau Sebaju. Salah satu HHBK yang paling banyak ditemukan yakni asam maram

MELAWI, SKR.COM – Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Melawi cukup banyak. Potensi yang ada tersebut tentunya dapat meningkatkan ekonomi masyarakat disekitar hutan. Salah satunya seperti yang ada di Dusun Sebaju Desa Kebebu Kecamatan Nanga Pinoh.

Hasil survey yang dilakukan Suar Institute April 2017 terkait POTENSI HHBK di Hutan Rasau Sebaju ditemukan banyak sekali potensi kekayaan HHBK. Kawasan 200 hektar hutan rawa gambut tersebut memiliki kekayaan HHBK berupa gandis, asam maram,  latek jelutung, rotan, pandan, serta berbagai jenis tanaman obat-obatan dan banyak lagi lainnya.

“Namun sayangnya, HHBK yang ada tersebut belum dikelola secara maksimal oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan dalam melakukan pengelolaan HHBK tersebut belum memadai. Sehingga sangat membutuhkan pelatihan-pelatihan,” kata Sudarmansyah, seorang Anggota Suar Institue Melawi, Jumat (6/10).

Berkaitan dengan hal tersebut, menjadisebuah pemikiran bagi Suar Intitue selaku Non-Governmental Organization dibidang lingkungan yang didukung oleh WWF¬-Indonesia, merencanakan untuk melakukan pelatihan pengolahan dan pengelolaan HHBK Rasau Sebaju.

“Pelatihan yang rencananya akan dilaksanakan, pengolahan buah asam maram menjadi sebuah produk sirup. Tidak hanya sebaagai pengolahan saja, namun juga akan melatih sisitim pengemasan produk serta sistim pemasaran produk ke peasaran,” ungkap Sudar.

Sementara itu, seorang pengurus hutan pasak sebaju, Saahbudin, mengakui bahwa selama ini kekayaan hutan rasau sebaju masih belum dikelola oleh masyarakat. Kekayaan ini membutuhkan kreatifitas pengelolaan agar menjadi bahan yang bernilai ekonomi tinggi.

“Selama ini kami kurang pengetahun dalam melakukan pengolahan dan pengelolaan HHBK yang ada diRasau Sebaju ini. Jikapun kami mengambil HHBK yang ada, tidak diolah, namun digunakan seadanya. Padahal HHBK yanga da sangat meimpah,” ungkapnya.

Pengelolaan HHBK ini masih terkendala kapasitas masyarakat Dusun Sebaju, Desa Nanga Kebebu yang masih lemah. Selain kurang pandai mengelola bahan baku menjadi bahan jadi, kendala yang dihadapi masyarakat Sebaju adalah akses pemasaran bahan jadi HHBK.

“Atas kendala tersebut, kami sangat membutuhkan pelatihan pengelolaan HHBK yang pelatihan bagaimana cara membuka akses pasar. Hal itu menjadi sangat penting dalam mengelola kekayaan alam Hutan Rasau Sebaju,” pungkasnya.(Edi)

Subscribe

No Responses

Comments are closed.