MELAWI, SKR.COM – Sungai Ella berada di kecamatan Ella Hilir masih memiliki air yang sangat jernih. Anak sungai Melawi ini mesti dilestarikan. Lantaran merupakan ekosistem yang sangat baik bagi ikan air tawar serta memiliki banyak potensi.
“Melawi memiliki banyak Sungai. Tetapi, banyak sungai besar yang telah hancur, airnya tidak bisa dikonsumsi dan tidak bisa menjadi ekosistem mahlus air. Jangan sampai sungai Ella Hilir hancur,” kata aktivis lingkungan Melawi, Jane Ridho, ditemui disaat menelusuri Sungai Ella, baru-baru ini.
Pemuda yang sangat hobi memancing ini mengatakan banyak sungai di Melawi yang sudah tidak bisa dijadika tempat memancing. Lantaran banyak sungai tetapi tidak bisa membuat ikan berkembangan biak.
“Kalau cerita orang orang tua, mereka mengatakan sangat mudah untuk mendapatkan ikan di Melawi. Baik di Sungai Besar maupun sungai kecil, tetapi sekaranng sangat sulit untuk mendapatkan ikan. Hingga membuat ikan sungai mahal, hingga tidak terjangkau oleh ekonomi rendah,” ulasnya.
Dia pun mencontohkan, dalam satu tahun, banyak sekali cerita musim ikan, seperti yang dialamai masyarakat sekitar Sungai Kebebu zaman dulu. Kalau zaman dulu, kalau panen ikan sampai satu perahu. Begitu pula di kawasan otak, ada juga musim panen ikan yang sangat luar biasa banyaknya.
“Banyak lagi cerita-cerita musim panen ikan di berbagai daerah di Melawi. Tetapi cerita itu hanya cerita yang dikenang manis. Kenyataan sekarang, tidak ada kisah musim panen,” ujar Lak-Laki berambut Panjang ini.
Lantas diterangkannya, Sungai Ela pada dasarnya masih sangat baik untuk perkembangan ikan air tawar. Ridho menilai, sungai Ela masih belum begitu tercemar. Bila musim kemarau, air sangat jernih, ikan pun bisa berkembang biak.
Bahkan, ungkap Ridho, di Sungai Ela ini ada cerita tentang banyaknya ikan pada masa-masa tertentu. Di Sungai Ela, setelah terjadi hujan, air Sunga Ela akan keruh akan banyak ikan. Apalagi kalau hujan di siang hari, malamnya paling cocok untuk memancing.
“Kalauada hujan di siang hari, maka, malam harinya akan sangat di tunggu oleh orang lokal untu memancing. Mereka akan banyak dapat,” ujarnya.
Kendati begitu, mantan Ketua Mapala Kompas ini mendapat kabar ada aktivitas penghancuran saat menangkap ikan, yakni menggunakan setrum. Cara ini jelas akan memusnahkan seluruh mahluk hidup yang ada di Sungai Ela.
Dia pun menyarankan, agar semua pemerintah desa yang berada di bantaran Sungai Ela hedaknya melarang warganya untuk menyetrum. Kalau ada yang masih bandel, hendaknya diberi sanksi yang setimpal.
Bahkan, dia menyarankan agar seluruh desa yang ada di bantaran Sungai Ela hendaknya membuat Perdes tentang pelestarian Sungai Ela. Kalau beberapa desa sepakat untuk melakukan pelestarian Sungai Ela, dipastikan sungai tersebut akan memberi manfaat lebih pada masyarakatnya.
“Ada contoh kisah sukses untu melestarika sungai, kemudian sungai tersebut memberi manfaat bagi masyarakat. Seperti di Jambi. Kalau Putusibau ada pelestarian kolam yang memberi manfaat keuntungan bagi masyarakat,” pungkasnya. (Wan)