Mendes Dorong Lembaga Keuangan dan BUMDes

SEMARANG, SKR.COM – Desa Gogik merupakan sebuah kawasan dataran tinggi di kecamatan Ungaran Barat, Semarang. Desa dengan tanah subur ini memiliki potensi pertanian sayur, padi, dan aneka jenis tanaman yang bernilai ekonomi. Desa Gogik dan desa desa lain disekitarnya juga memiliki potensi wisata pegunungan yang cukup tersohor dan sering dikunjungi pelancong

Di desa Gogik inilah, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar melakukan blusukan. Kali ini agak unik, Menteri Marwan masuk ke ruangan-ruangan kantor desa yang selama ini menjadi mesin penggerak kegiatan desa.

Begitu sampai, Menteri Marwan langsung sidak kantor kepala desa, berdiskusi dengan aparat desa dan melihat laporan dana desa. Menteri Marwan kemudian duduk di kursi yang biasa menjadi tempat kerja perangkat desa dan termasuk pendamping desa.

“Di sini, ongkos tukang/pekerja berapa?,” tanya menteri Marwan kepada aparat desa setempat, Kamis (14/4/2016).

“Kalau tukang harian ya Rp60 ribu per hari. Kemarin kita buat jalan pakai dana desa, ya satu orang pekerja Rp60 ribu itu sehari,” jawab Syaifuddin, seorang aparat desa.

“Nah. Ini sudah bener. Maksud saya bicara ke mana-mana dana desa dipakai buat infrastruktur seperti ini. Pekerjanya, upahnya kan masyarakat desa yang langsung dapat kerjaan. Kalau Rp60 ribu satu orang, kemudian pekerjanya 50 orang kan lumayan membuka lapangan kerja. Bagi masyarakat itu sangat berarti, buat beli beras, lauk, buat dapur,” kata Marwan.

Di Desa Gogik, Menteri Marwan juga masuk ke ruangan yang diatas pintu masuknya bertuliskan Lembaga Keuangan Desa Samara, Unit Simpan Pinjam. Dalam ruangan yang berukuran dua meter per segi ini, Menteri Marwan membolak-balikkan kertas laporan keuangan unit simpan pinjam tersebut.

“Lembaga keuangan ini unit usaha dari BUMDes Desa Gogik,” tutur Syaifuddin. Dalam sebulan, lanjut dia, laba dari unit usaha ini mencapai Rp4 juta.

“Ini juga betul. Harus mempermudah masyarakat kalau mau nyari pinjaman modal usaha. Jangan sampai tengkulak, pengojon, dan rentenir bermain. Kembangkan terus BUMDes ini,” kata Menteri Marwan.

Sebelum ke Desa Gogik, Menteri Marwan mengumpulka para kepala desa di pendopo Kabupaten Semarang. Di sana, para kades dan perangkat desa diminta agar jangan takut menggunakan dana desa yang jumlahnya tahun ini rata-rata Rp700 – 800 juta per desa. Masyarakat jangan terjebak dengan aturan yang rumit karena semua sudah dibuat simpel.

“Cukup dua lembar kertas RPJMDes, dan laporan penggunaan dana desa. Sudah cairkan dan gunakan. Saya bawa ke sini copy template contohnya. Ini sudah kita godok dalam SKB tiga menteri. Enggak usah rumit dan njelimet, ikutin saja template ini. Saya copy banyak dari Jakarta biar jadi panduan,” imbuh Marwan.

Menteri Marwan juga menuturkan, Dana Desa tahun ini dicairkan dalam dua tahap, tahap pertama 60 persen pada hulan April dan tahap kedua 40 persen pada bula Agustus. Adapun prooritas penggunaanya adalah Pertama untuk membgun infrastruktur desa, kemudian untuk sarana pemenuhan kebutuhan sosial dasar masyarakat seperti posyandu, polindes, puskesdes, dan PAUD.

Jika semua sudah, lanjut Marwan, maka masyarakat bisa gunakan dana desa untuk memperkuat ekonomi desa seperti bangun kios desa, pasar tempat lelang ikan, termasuk BUMDes. “Ini panduan yang sudah dibuat dalam Permendesa. Silahkan baca karena copyannya juga saya bawa banyak dari Jakarta. Silahkan di musyawarahkan di desa agar masyarakat semuanya tau dan kalau sudah tau tentu akan merasa memiliki dan akan ikut terlibat,” tegasnya.(Rls)

Posting Terkait