Rehabilitasi Jalan Poros SKP.C: Kunci Konektivitas 10 Desa di Tempunak dan Sepauk

oleh
oleh
CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 82
SINTANG, SKR.COM – Kondisi infrastruktur jalan yang memadai menjadi faktor krusial dalam mendukung kemajuan ekonomi dan sosial di daerah pedesaan. Di Kecamatan Tempunak dan Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, perbaikan Jalan Poros dan Jalan Penghubung di kawasan SKP.C menjadi perhatian utama. Kepala Desa Mengkurat Baru, Tri Yuliardi  pada Jumat (16/5/2025), mengungkapkan pentingnya rehabilitasi jalan tersebut untuk menghubungkan hingga 10 desa di kedua kecamatan.
Menurut Tri, dengan kondisi jalan yang baik, enam desa di Kecamatan Tempunak – Paribang Baru, Mengkurat Baru, Tinum Baru, Pangkal Baru, Pulau Jaya, dan Benua Baru – akan terhubung dengan lancar. Selain itu, empat desa di Kecamatan Sepauk – Mait Hilir, Peninsung, Semuntai, dan Tanjung Balai – juga akan mendapatkan aksesibilitas yang lebih baik. Hal ini akan berdampak signifikan terhadap perekonomian dan mobilitas masyarakat di kedua wilayah tersebut.
Tri juga menyoroti pentingnya jaringan infrastruktur pendukung lainnya. Ia menjelaskan bahwa jaringan tiang listrik SUTR (Saluran Udara Tegangan Rendah) menuju Desa Riam Kempadik di Kecamatan Sepauk, saat ini memanfaatkan jaringan yang ada di Dusun Tapang Tambit, Desa Semuntai, Kecamatan Tempunak. Hal ini menunjukkan keterkaitan dan saling ketergantungan antar wilayah yang semakin memperkuat argumen perlunya perbaikan infrastruktur jalan.
Kawasan eks Transmigrasi SKP.C memiliki tiga jenis jalan: Jalan Penghubung, Jalan Poros, dan Jalan Blok (jalan pemukiman). Jalan Penghubung menghubungkan Simpang Pauh Benua menuju Simpang SP. 2/SKP.C, sedangkan Jalan Poros menghubungkan antar SP (Simpang). Jalan Blok merupakan jalan-jalan kecil yang merupakan cabang dari Jalan Poros dan melayani akses ke pemukiman warga.
Tri mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi jalan yang selama ini kurang terawat. “Seingat saya, ruas Jalan Penghubung dan Jalan Poros di SKP.C ini sejak belasan tahun lalu baru dua kali direhabilitasi. Pertama saat Hari Bakti Pekerjaan Umum pada bulan November-Desember 2016, dan kemudian kegiatan pemeliharaan pada tahun 2023. Namun, rehabilitasi yang dilakukan tidak menyeluruh, hanya di beberapa titik lokasi yang paling parah kerusakannya,” jelasnya.
Ia berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah untuk melakukan rehabilitasi total terhadap jalan-jalan tersebut guna meningkatkan konektivitas dan kesejahteraan masyarakat di 10 desa yang terdampak. Perbaikan infrastruktur jalan ini bukan hanya sekadar perbaikan fisik, tetapi juga investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (KL)