MELAWI, SKR.COM – Mendorong Melawi menjadi bagian dari Kabupaten Layak Anak (KLA) tak bisa dilakukan tanpa dukungan multipihak, mulai masyarakat, pemangku kebijakan hingga dukungan stakeholder. Persoalan anak yang begitu kompleks, mulai dari kenakalan remaja, belum terpenuhinya hak anak sampai alasan kemiskinan membuat komitmen untuk mendorong pembentukan KLA harus terus dikuatkan.
Koordinator KOMPAWI Melawi, Bahrum Sirait, menegaskan, untuk mewujudkan KLA di Melawi, diharapkan adanya penguatan koordinasi para stakeholder, instansi terkait, organisasi kemasyarakatan dan unsure masyarakat lainnya dapat terus ditingkatkan dan terus melakukan koordinasi secara rutin. Ia menuturkan, tanpa dukungan Pemkab dan DPRD Melawi, impian Melawi sebagai KLA sangat sulit terwujud. “Deklarasi KLA baru-baru ini di Pontianak kita harapkan tidak hanya seremonial belaka namun ada tindak lanjut dari Pemkab Melawi,” katanya.
Terpisah, Ketua PKK Melawi, Nurbetty Eka Mulyastri Panji ditemui beberapa waktu lalu mengungkapkan banyaknya sekali item yang harus terpenuhi sehingga KLA bisa disandang oleh sebuah kabupaten. “Kita akan berupaya terus berkoordinasi dengan berbagai lintas sektor, berkomunikasi dengan pihak terkait dan akan terus bergerak agar KLA ini bisa terwujud di Melawi,” katanya.
Wanita yang akrab disapa Astrid ini menuturkan, langkah awal KLA justru dimulai dari lingkungan terkecil seperti keluarga, kemudian berlanjut pada desa ramah anak, ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) sampai puskesmas ramah anak dan berbagai pendukung lainnya.
“Kita sendiri sebenarnya sudah berproses kearah ini, dan semoga tahun depan kita sudah bisa Melawi bisa jadi KLA. Sehingga kita juga terus memperbaiki apa apa yang kurang, semoga kedepan status ini bisa kita capai,” katanya.
Sementara itu, dalam sebuah diskusi Koalisi Organisasi Masyarakat Peduli Anak Melawi (KOMPAWI), beberapa hari lalu di Nanga Pinoh terungkap banyaknya persoalan anak yang mesti dicarikan jalan keluarnya. Hal itu juga diungkapkan Kapolsek Nanga Pinoh, AKP Yoyo Kuswoyo yang hadir dalam diskusi tersebut. ia mengatakan kasus anak berhadapan dengan hukum juga kerap terjadi di Melawi, atau secara khusus di wilayah kecamatan Nanga Pinoh.
“Kita akan merangkul pada semua pihak untuk melakukan dialogis untuk penyampaian hal yang terkait dengan bahaya penyimpangan penggunaan teknologi yang negatif, termasuk menangkal berita hoax yang cenderung provokatif dan bersifat merusak pada remaja,” katanya.
Terhadap KOMPAWI, Yoyo memiliki harapan khusus agar koalisi masyarakat sipil tersebut juga mampu memperjuangkan pemenuhan hak anak, termasuk memberikan sosialisasi terhadap anak dan orang tua dalam kaitannya menekan terjadinya tindak kriminal yang juga kerap melibatkan anak
dibawah umur. “Poin terpenting dari proses pengembangan KLA yakni koordinasi diantara para stakeholder pemenuhan hak-hak anak yang dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan,” katanya.(Edi)
