SINTANG, SKR.COM – Para santri harus disiapkan untuk menjadi pelaku usaha kreatif di masa mendatang saat sudah selesai belajar di pondok pesantren ini. Para santri harus siap menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Para santri harus siap bersaing dengan anak muda dari negara tetangga.
Para santri harus selalu memegang teguh Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Santri harus menjadi pelopor kebhinekaan dan pemelihara perbedaan. Demikian disampaikan Bupati Sintang H. Jarot Winarno saat melakukan penancapan tiang pertama pembanguan rusunawa pesantren di Kompleks Pondok Pesantren Agropolitan Nurul Ma’arif Sintang pada Sabtu 29 April 2017.
“lokasi pembangunan rusunawa pesantren ini khusus di Pondok Pesantren Agropolitan Nurul Ma’arif Sintang diharapkan bisa selesai pada November 2017 ini. Saya senang karena Kementerian PUPR sudah mengalokasikan dana untuk pembangunan rusunawa pesantren. Semoga nanti pengerjaannya bisa lancar dan bisa dimanfaatkan oleh Pondok Pesantren Agropolitan Nurul Ma’arif dengan baik untuk pengembangan pendidikan di sini. Saat ini di Kabupaten Sintang, Kementerian PUPR juga sedang melaksanakan program bedah rumah tidak layak huni dengan bantuan material 30 juta dan 15 juta. Untuk tahun anggaran 2018 kita sudah ajukan dan perjuangkan rusunawa di SMK Kartini dan Kompleks Gedung Baru RSUD AM Djoen Sintang” terang H. Jarot Winarno.
KH. Muhammad Ghozali Pengasuh Pondok Pesantren Agropolitan Nurul Ma’arif Sintang menyampaikan lokasi ini sudah di survei sebanyak empat kali oleh Tim Kementerian PUPR Jakarta.
“terima kasih kepada Pemkab Sintang sudah memberikan rekomendasi untuk mempermudah kegiatan pembangunan rusunawa ini. Rusunawa ini akan kami khususkan untuk santri putri. Mudah-mudahan tahun 2018 rusunawa sudah selesai dan siap diresmikan. Santri kita disini berasal dari 5 kabupaten yakni Sintang, Melawi, Sanggau, Sekadau dan Kapuas Hulu.” terang KH. Muhammad Ghozali.
Martinus Tandi Rante Kepala Satuan Kerja Perumahan Rakyat Kalimantan Barat Ditjen Penyediaan Rumah Kementeran Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI menjelaskan sejak tahun 2016 sudah mulai direncanakan pembangunan rusunawa di sini.
“dan tahun 2017 baru bisa dilaksanakan pembangunan. Kami juga memberikan bantuan material bangunan untuk 300 unit rumah tidak layak huni di Kalimantan Barat. Yang menentukan rumah sasaran adalah pemkab masing-masing. Kami juga turut membangun rumah tapak khusus di perbatasan Republik Indonesia-Malaysia untuk para petugas di perbatasan seperti anggota TNI, POLRI, Bea Cukai dan Guru. Pembangunan rusunawa di sini diharapkan agar para santri bisa belajar dengan baik sehingga akan muncul calon pemimpin dari pondok pesantren ini. Rusunawa ini akan dibangun dengan ukuran 18 x 85 meter dengan tiga lantai. Lantai paling atas untuk jemuran dengan total dana 9,6 milyar dengan waktu kerja 270 hari” terang Martinus Tandi Rante.
Antonius Jabar Kepala Desa Balai Agung Kecamatan Sungai Tebelian menyampaikan dukungan atas pembangunan rusunawa untuk santri dengan harapan bisa meningkatkan dan mendukung proses belajar mengajar.
”Keberadaan pondok pesantren di sini diharapkan mampu bersama-sama membangun desa balai agung. Kami berharap pembangunan rusunawa ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat desa balai agung. Kami menyambut baik pembangunan rusunawa ini, jaga keamanan dan ketertiban selama proses pembangunan rusunawa” pinta Antonius Jabar.(Slh)
