MELAWI, SKR.COM – Bustanul Quran yang awalnya hanya sebatas yayasan pesantren non formal untuk mencetak Tahfidz Quran, pada tahun ini sudah membuka sekolah formal di tingkat Sekolah Menengan Pertama (SMP) dengan nama SMP Islam Tahfidz Quran dan membuka Madrasyah Aliyah. Dimana kedua tingkatan sekolah formal tersebut menjadi sekolah dengan progrm unggulan Tahfidz Quran yang pertama di Melawi.
“Meskipun begitu, SMP dan Aliyah ini tidak menyampingkan pelajran umum lainnya. Disini nantinya akan mencetak para tahfidz Quran,” katanya Pengasuh Yayasan Pesantren Bustanul Quran, Ustadz Joko Supeno Mukti, kemarin.
Lebih lanjut ia mengatakan, para murid di SMP dan Aliyah yang juga santri di Pesantren Bustanul Quran ini, sudah banyak yang sudah hafal Al- Quran. Dimana santri dan santriwati di yayasan tersebut memiliki 130 orang.
“Jumlah murid yang mondok disini sebanyak 130 orang.Untuk yang sekolah SD masih sekolah di luar sebanyak 13 orang, yang SMP berjumlah 90 orang, kelas 2 ada 9 orang dan yang kelas 1 ada 70 orang sekolah di SMP Islam Tahfidz Quran, dan yang kelas 3 SMP sekolah di luar 6 orang karena kelas 3 belum ada. Untuk yang yang Aliyah kelas 1 ada kurang lebih 8 orang, dan yang klas 3 sekolah keluar ada ada 9 orang,” terang Joko.
Dari jumlah murid yang ada tersebut, sudah banyak yang hafal Al Quran, sebanyak 2 orang sudah hafal 20 zus, 1 orang hafal 15 zus, kemudian 3 orang hafal 13 zus dan 5 orang hafal 10 zus. “Yang lainnya rata-rata sudah hafal 2 sampai 5 zus,” ungkapnya.
Murid yang masuk ke yayasan Bustanul Quranbaik itu di tingkat SMP, dan Aliyah, tidak hanya dari sekitaran Melawi saja. Namun banyak juga yang datang dari luar kabupaten, yang sekaligus mondok di pesantren tersebut.
“Ini murid-muridada yang dari Sambas, Entikong, Sanggau, Sintang dan terlebih Melawi, semua kecamtan ada. Lokal kita yang ada 14 yang SMP 3 ruang, Aliyah 3 ruang, sisanya untuk kantor guru dan asrama tidur dan asrama guru. Namun kita masih sangat membutuhkan bantuan, karena masih belum ada perpustakan, labolatorium,” paparnya.
Untuk para santri yang mondok di Bustanul Quran sekaligus bersekolah di sekolah formalnya, para santri juga tidak boleh leluasa keluar. Santri di izinkan keluar dengan orang tua atau walinya ke pasar atau belanja,dan lain-lainnya dalam waktu sebulan sekali. Jika orang tua atau wali ingin memberikan
Sesuatu seperti makanan, harap di bawa ke pondok sehingga tidak membawa anak keluar.
“Santri boleh di izinkan pulang kampung selama waktu dua bulan sekali. Orang tua atau wali hendaknya memberi tahu lebih dahulu ke pihak pesantren jika ingin menjemput. dan batas maksimal di rumah 5 hari kecuali libur semesteran dan tahunan. Aturan tersebut bisa ada pengecualian apabila ada hal yg khusus dan penting. Sementarauntuk yang sekolah keluar, diantar jemput menggunakan bus Bustanul Quran,” ucapnya.
Hari-hari para santri yang mondok serta bersekolah di yayasan Bustanul Quran tersebut, hari-harinya terus dihadapkan dengan hafalan Al Quran. Namun, bagi santri yang sudah bisa menghafalkan 15 zus Al Quran, sejak tahun lalu diberi hadiah untuk berangkat umroh oleh Anggota DPR RI, H. Sukiman.
Salah seorang santri asal Desa Tanjung Lay, Mumahhad Remo Al Bustani (17), menceritakan kesehariannya dan para santri lainnya di Pondok Pesantren Bustanul Quran. Sejak pukul 03.00 dini hari, para santri maupun santriwati di pesantren tersebut sudah bangun untuk melaksanakan shalat tahajud, hingga mengerjakan shalat subuh.
Sehabis shalat subuh, harus menyetor hafalan baru ke pada pengasuh yayasan Bustanul Quran. “Setoran hafalan baru itu dilakukan setiap hari kecuali Jumat dan Minggu. Setoran hafalan itu minimal satu halaman,” kisah Bustani.
Lebih lanjut, pria yang duduk dibangku kelas 2 Aliyah Nanga Pinoh itu mengatakan, setelah menyetor hafalan dirinya membantu pengasuh pesantren untuk menyimak hafalan Al Quran dari santri santri yang sedang halangan atau datang bulan.
“Setelah itu barulah kami berangkat ke sekolah. Di sekolah kami pulang ba’da zduhur atau sampai pukul 13.40 WIB. Sepulang sekolah, setelah makan, kami menyiapkan hafalan baru. Habis itu baru istirahat sebentar. Setelah shalat Ashar para santri belajar tilawah, kemudian habis Maghrib setor hafalan yang mengulang. Setelah Isya, para santri terus mengulang hafalan-hafalan yang ada,” terangnya.
Ia mengaku sangat senang dengan aktivitas ddi pesantren. Dimana para santri bisa terus mendekatkan diri kepada yang maha kuasa. Disamping itu, banyak pengetahuan agama yang didapat pada pesantren tersebut. “Saya di pesantren ini sudah hampir tiga tahun, dimana Alhamdulillah, saya sudah bisa menghafal 18 zus,” ungkapnya.
Sementara itu seorang santriwati asal Desa Bloyang, Nurul Fadilah, (14), mengatakan, dirinya sudah mondok di pesantren sudah kurang lebih 2 tahun. Dimana dipesantren tersebut mengajarkan banyak tentang agama, terlebih dalam menghafal Al Quran. “Alhamdulillah saya sudah hafal 19 zus. Yang dengan belajar agama ini, pstinya ada perubahan dalam hidup, lebih merasa hidup penuh barokah,” ucapnya.
Kedua santri Bustanul Quran tersebut menjadi contoh dan memberikan motivasi bagi santri lainnya, diamana pada tahun 2016 lalu, keduanya diberi hadiah berangkat umroh oleh H. Sukiman karena mampu menghafal 15 zus. Pada tahun ini, santri Busnatul Quran juga mendapatkan hadian untuk berangkat umroh, yang keduanya sama sama sudah hafal 15 zus Al Quran. (edi)
