MELAWI, SKR.COM – Ketua Komisi I DPRD melawi, H. Hamri Hum meminta pihak Pemerintah Kabupaten Melawi memperhatikan Sekolah Dasar (SD) Jarak Jauh Dusun Keluas Meniba, Desa Harapan Jaya yang memprihatinkan. Sebab sekolah jarak jauh tersebut merupakan sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi dalam pendidikan. Dimana, banguann yang ada sekarang ini dibuat oleh warga setempat secara swadaya. Hanya karena ingin anak-anak mereka yang usia sekolah bisa mengenyam pendidikan SD.
“Kita jangan sampai membiarkan ini. Kebutuhan pendidikan anak-anak harus diperhatikan. Sebab suksesnya sebuah pendidikan juga menunjukan sebuah kesuksesan dalam pembangunan,” katanya ditemui di kantor DPRD Melawi, pekan lalu.
Lanjut Hamri, masyarakat membangun sekolah tersebut secara swadaaya tentu karena sangat membutuhkan sekolah tersebut, dan tidak ingin anak-anak di desa tersebut tidak bersekolah.
“Itu factor dari lokasi sekolah induknya yang sangat jauh, sehingga sulit untuk menjangkaunya,” paparnya.
Hamri mengatakan, saat ini banyak sekali bangunan gedung sekolah, namun tidak tepat, dalam arti kata, lokasinya yang tidak strategis sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam penerimaan siswanya.
“Seperti SD Jarak jauh ini, sudah benar-benar dibutuhkan, jadi harusnya memang dibangun, meskipun hanya dibangun satu local dulu,” ucapnya.
Sebelumnya, Kepala Desa Harapan Jaya, Kecamatan Tanah Pinoh Barat, Sudarmono mengatakan, SD Jarak Jauh tersebut mulai beroperasi tahun 2017 ini. SD ini menginduk ke SDN 05 Landau Tubun. Gedung sekolah yang digunakan untuk belajar siswa dibuat secara swadaya oleh masyarakat dengan ukuran 4 x 6 meter.
“Kondisinya masih sederhana. Atapnya menggunakan atap daun, dindingnya dari kulit kayu, lantainya langsung ke tanah. Bahkan papan tulisnya menggunakan papan pengumuman di kantor desa,” ungkapnya belum lama ini.
Menurut dia, walaupun sekolahnya sederhana, jumlah siswanya sebanyak 12 orang. Semuanya kelas satu, karena SD tersebut baru beroperasi pada tahun pelajaran 2017/2018 ini.
Sementarat Tenaga gurunya ada dua orang, semuanya guru honor, yakni yang satu guru umum dan yang satunya lagi guru agama.
“Tenaga guru honor tersebut dibiayai oleh BOS,” ujarnya.
Dikatakan Sudarmono, sekolah tersebut dibangun atas permintaan masyarakat, dan didukung oleh sekolah induk. Sebab jika anak-anak dari dusun tersebut harus pergi ke SDN 5 Landau Tubun, mereka harus menempuh perjalan sekitar 6 kilo meter lewat hutan.
“Jumlah warga di dusun tersebut ada 41 Kepala Keluarga (KK). Di dusun tersebut tidak ada yang tamat SD,” ucapnya.
Lantaran sulitnya mendapatkan pendidikan, karena jauh menjangkau fasilitas pendidikan tersebut lah maka masyarakat minta supaya didirikan sekolah jarak jauh di dusun tersebut.
“Untuk membantu proses belajar mengajar di sekolah tersebut, saya sudah merencanakan akan membantu biaya honor dua orang tenaga guru di sekolah tersebut menggunakan Dana Desa,” tuturnya.
Dia juga berharap kepada Pemerintah Kabupaten Melawi supaya bisa membangun gedung sekolah baru di SD Jarak Jauh tersebut. Kalau memang pemerintah membangun gedung untuk sekolah tersebut, masyarakat sudah menyiapkan lahan untuk dihibahkan sebagai lokasi pembangunan gedung sekolah tersebut. (Edi)





