MELAWI, SKR.COM – Anak pada hakikatnya bukan saja sebagai harta kekayaan bagi orang tuanya, tetapi juga sekaligus harta bagi masa depan suatu bangsa. Suatu bangsa akan memperoleh harta yang tidak ternilai jika memiliki anak-anak sebagai generasi yang sehat, cerdas dan berkualitas. Oleh karenanya, adalah sebuah tanggung jawab besar bagi semua pihak untuk mewariskan suatu generasi anak-anak yang akan menyelamatkan bangsa pada beberapa dekade yang akan datang.
“Sementara itu, kita kini sangat ketar-ketir dengan berbagai macam ragam tayangan televisi berupa banyaknya sinetron-sinetron yang tidak mendidik, akrab dengan kekerasan, perilaku yang tidak manusiawi, tidak santun dan permisif terhadap pergaulan bebas. Untuk mendorong lahirnya anak-anak cerdas, sehat, berakhlak dan berkualitas merupakan perjuangan yang tidak mudah memang bagi para orang tua (keluarga) serta sangat kompleks dan tidak ringan bagi keluarga (orang tua) dalam membentengi anak-anaknya,” kata praktisi pendidikan kabupaten Melawi, Dedi Suparjo, ditemui di Nanga Pinoh, Selasa (11/4).
Semua komponen bangsa terutama keluarga harus diberikan kesadaran akan nilai strategis generasi anak-anak saat ini, untuk menyelamatkan generasi masa depan bangsa. Selanjutnya di tuntut kepedulian yang total dari semua pihak terutama para pengambil kebijakan di negeri ini, bukan cuman keluarga (orang tua) untuk bersama-bersama berperan dalam mengambil tanggung jawab untuk menyelamatkan generasi bangsa.
“Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama di mana anak-anak berinteraksi, di mana orang tua (keluarga) memegang peranan yang sangat penting memang sebagai lembaga pendidikan yang utama dan tertua karena di dalam keluargalah dimulai suatu proses pendidikan bagi seorang anak. Sehingga orang tua berperan sentral sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, pria yang bertugas sebagai pendamping desa di Kecamatan Pinoh Utara ini mengatakan, lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama. Karena sebagian besar kehidupan anak berada dalam pengawasan dan pembinaan keluarga. Ketimbang lingkungan sekolah dan sosialnya masyarakatnya dimana mereka bermain dan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga sendiri.
Sehingga menurutnya, keluarga sebagai lembaga terkecil bagi pendidikan anak memiliki fungsi dalam perkembangan kepribadian anak dan mendidik anak dirumah serta fungsi keluarga atau orang tua dalam mendukung pendidikan anak di sekolah, ketika mereka sudah memasuki usia sekolah perlu untuk terus ditingkatkan.
Perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam bidang ilmu pengetahuan dapat mengubah perilaku manusia, pola pikir, kebiasaan, bahkan gaya hidup. Perubahan-perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak. Jika perubahan itu terpusat pada hal-hal yang negatif, hal ini akan sangat berbahaya. Dikarenakan anak-anak belum mampu menyaring atau menyeleksi mana yang berdampak baik dan mana yang akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Jika tidak diawasi oleh para orang tuanya, ketika mereka sedang mendapatkan akses informasi terhadap apa yang sedang mereka terima.
“Adapun dampak negatif seperti tayangan-tayangan pornografi yang membawa dampak yang sangat buruk jika dilihat oleh anak-anak yang belum saatnya untuk melihat tayangan seperti itu. Tayangan itu juga, bisa merusak jaringan otak terutama bagi anak-anak yang berada dalam masa-masa pertumbuhan,” ujarnya.
Berbagai macam jenis permainan atau games juga bisa menyita waktu berjam-jam, yang seharusnya waktu tersebut bisa digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat, terbuang begitu saja, tanpa terasa pula yang digunakan untuk itu semua telah menghabiskan banyak uang, yang mungkin hampir menyamai biaya kebutuhan primer bagi sang anak dan kelurganya.
Maka dari itu, anak-anak harus dikenalkan kepada ajaran agama yang mereka yakini sedini mungkin, tidak hanya diwajibkan untuk sekolah umum saja, sejak masuk ke lembaga sekolah formal yang dimulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga masuk Taman Kanak-kanak , Sekolah Dasar (SD) sampai ke Perguruan Tinggi, harus diberi pendidikan akhlak (Karakter) sedini mungkin, yang biasa disebut budi pekerti seperti pendidikan karakter sejak dini. Yang sekarang ini hampir-hampir sirna diperhatikan oleh setiap keluarga dengan kesibukan para orang tua dengan pekerjaan mereka, sehingga melalaikan tanggung jawab mereka terhadap perkembangan anak-anaknya di era zaman sekarang
“Contoh dalam ajaran Islam, banyak dijelaskan hal-hal yang menyangkut pendidikan akhlak, misal bagaimana cara bergaul muda-mudi, sifat-sifat mulia seperti pemaaf, peduli, penolong, dermawan, santun dan menghormati orang yang lebih tua. Bagi anak-anak perempuan biasakan mengenakan busana muslim atau pakaian yang bisa menutup aurat mereka, agar saat dewasa nanti mereka sudah terbiasa mengenakannya. Dengan memakai busana muslim, paling tidak, tidak akan menimbulkan hasrat lawan jenisnya untuk melakukan hal-hal yang melanggar agama atau susila, dan hal-hal lain yang kurang sopan,” ucapnya.
Jadi, tambahnya, haruslah seimbang antara pendidikan umum dengan pendidikan akhlak (budi pekerti) atau pendidikan karakter, karena keduanya sama-sama memiliki peran dan posisi penting untuk kehidupan mereka dikemudian hari. “Karena menurut hemat penulis apalah artinya jika kita disebut orang yang berilmu, jika tidak ber-akhlak, jadi orang tua sebagai pilar utama bagi pendidikan anak harus memahami hal itu sebagai bekal bagi anak-anaknya kelak,” pungkasnya. (edi)





