BALIKPAPAN, SKR.COM – Menurut Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional pada tahun 2015, 8 juta balita mengalami masalah kekurangan gizi dan 5,4 juta diantaranya terindiksi mengalami gizi buruk.
PKPU mengambil peran dalam membangun kemandirian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat melalui Program Sahabat Gizi Kita (SAGITA) dan Kampung Nutrisi.
Dalam rangka Hari Gizi Nasional yang jatuh pada tanggal 25 Januari 2015 lalu, Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU secara serentak melakukan kegiatan edukasi dan pelaksanaan program gizi.
Di Balikpapan, LKN PKPU mengadakan Sekolah di Kampung Nutrisi Sepinggan Raya. Kampung Nutrisi Sepinggan Raya merupakan kampong nutrisi pertama di Balikpapan ,dengan tujuan meningkatkan gizi balita di daerah Sepinggan Raya khususnya di RT 02, 03, dan 05. Terdapat sekitar 20 balita yang memerlukan pendampingan gizi.
Bertempat di kediaman RT. 5 Sepinggan Raya Berbagai kegiatan edukasi di Sekolah Gizi dilakukan dimulai dengan Taklim yang langsung di sampaikan oleh kader Kampung Nutrisi Marniah, dengan tema “Doa-DoaHarian Yang Harus Dipahami Orang tua dan Anak” kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan yang disampaikan oleh Kepala Divisi Kesehatan PKPU Balikpapan Retno tentang manfaat daun kelor bagi kesehatan dan peningkatan gizi serta pemenuhan gizi bagi balita.
Daun kelor dapat dijadikan sebagai varian makanan, dimana minimal ada 5varian yang memenuhi kebutuhan gizi mikro dan makro sesuai prinsip di versifikasi pangan.
Selain harganya lebih murah, tersedianya tumbuhan tersebut di sekitar warga juga menjadi kelebihan.
Retno mengungkapkan “jika daun kelor memiliki gizi yang tinggi yang setara dengan susu dan memiliki kandungan zat besi yang cukup tinggi.
Kandungan zat besi yang ada pada daun kelor cocok dikonsumsi ibu hamil ,akan tetapi masih minimnya pengetahuan tentang manfaat daun kelor sehingga persepsi di masyarakat untuk pemenuhan gizi hanya dengan minum susu ,pada hal dari segi ekonomis harga susu lebih mahal dari pada daun kelor”.
Di akhir pertemuan para kader kampong nutrisi berkumpul untuk memanen daun kelor yang telah ditanam di kebun nutrisi dan dilanjutkan dengan penimbangan dan pengukuran tinggi badan sebagai langkah pemantauan status gizi balita.
“Saya sangat terbantu dan mendapatkan manfaat dari program kampong nutrisi, demi kesehatan cucu saya, selama masih bias di jangkau akan terus diikuti“, ungkap Wariha yang merupakan nenek dari ananda Akbar.
Akbar baru masuk menjadi adik binaan di pos nutrisi di awal tahunini, setelah sebelumnya jarang melakukan penimbangan dikarenakan rumah yang jauh danberpindah-pindah.
Di pos nutrisi kondisi Akbar yang berada di bawah garis merah KMS dan membutuhkan asupan perbaikan gizi, akan dipantau secara intensif. (Rls)
