MELAWI, SKR.COM – Kondisi Sekolah Dasar (SD) Jarak Jauh Dusun Keluas Meniba Desa Harapan Jaya yang memprihatinkan akhirnya mendapat jawaban dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) melawi, H. Joko Wahyono. Ia mengatakan, bahwa pihaknya akan meninjau dulu kebenaran keberadaan dan kondisi SD jarak jauh atau pelial tersebut.
“Ya kita kita akan tinjau dulu, tidak boleh percaya begitu saja. Kemudian sebetulnyakan untuk membuat SD Pelial, itukan sudah tidak boleh sejak semua SD pelial yang ada di Melawi ini di Negerikan semua. Namun kalau sudah telanjur seperti ini ya apa boleh buat,” katanya saat ditemui di DPRD Melawi, Senin (23/10).
Lebih lanjut Joko mengatakan, terkait kebijakan dalam membuat SD pelial atau jarak jauh sebetulnya tidak boleh lagi. Namun karena kondisi lingkungan masyarakat yang jauh dengan sekolah induk, hal tersebut terkadang terpaksa harus dilakukan.
“Kalau sudah telanjur dibangun secara swadaya masyarakat ya, apa boleh buat. Tapi kita berharap jangan ada lagi SD jarak jauh lainnya, karena di Melawi ini sudah sangat banyak SD, kalau tidak salah hampir dua ratusan sekolah,” katanya.
Terkait SD jarak jauh Dusun Keluas meniba Desa Harapan Jaya, Joko juga mengaku tidak pernah tau dan tidak ada laporan dari pihak sekolah terkait hal tersebut.
“Tidak ada laporan ke kami, harusnya kan pihak sekolah Induk melaporkan ke kami terkait sekolah jarak jauh itu,”paparnya.
Sebelumnya, Kepala Desa Harapan Jaya, Kecamatan Tanah Pinoh Barat, Sudarmono mengatakan, SD Jarak Jauh tersebut mulai beroperasi tahun 2017 ini. SD ini menginduk ke SDN 05 Landau Tubun. Gedung sekolah yang digunakan untuk belajar siswa dibuat secara swadaya oleh masyarakat dengan ukuran 4 x 6 meter.
“Kondisinya masih sederhana. Atapnya menggunakan atap daun, dindingnya dari kulit kayu, lantainya langsung ke tanah. Bahkan papan tulisnya menggunakan papan pengumuman di kantor desa,” ungkapnya belum lama ini.
Bangun sekolah tersebut dibuat oleh warga setempat secara swadaya. Hanya karena ingin anak-anak mereka yang usia sekolah bisa mengenyam pendidikan SD.
Menurut dia, walaupun sekolahnya sederhana, jumlah siswanya sebanyak sudah sebanyak 12 orang. Semuanya kelas satu, karena SD tersebut baru beroperasi pada tahun pelajaran 2017/2018 ini. Tenaga gurunya ada dua orang, semuanya guru honor, yakni yang satu guru umum dan yang satunya lagi guru agama.
“Tenaga guru honor tersebut dibiayai oleh BOSsekolah induknya,” ujarnya.
Dikatakan Sudarmono, sekolah tersebut dibangun atas permintaan masyarakat, dan didukung oleh sekolah induk. Sebab jika anak-anak dari dusun tersebut harus pergi ke SDN 5 Landau Tubun, mereka harus menempuh perjalan sekitar 6 kilo meter lewat hutan.
“Jumlah warga di dusun tersebut ada 41 Kepala Keluarga (KK). Di dusun tersebut tidak ada yang tamat SD,” ucapnya.
Lantaran sulitnya mendapatkan pendidikan, karena jauh menjangkau fasilitas pendidikan tersebut lah maka masyarakat minta supaya didirikan sekolah jarak jauh di dusun tersebut.
“Untuk membantu proses belajar mengajar di sekolah tersebut, saya sudah merencanakan akan membantu biaya honor dua orang tenaga guru dio sekolah tersebut menggunakan Dana Desa,” tuturnya.
Dia juga berharap kepada Pemerintah Kabupaten Melawi supaya bisa membangun gedung sekolah baru di SD Jarak Jauh tersebut. Kalau memang pemerintah membangun gedung untuk sekolah tersebut, masyarakat sudah menyiapkan lahan untuk dihibahkan sebagai lokasi pembangunan gedung sekolah tersebut. (Edi)





