Pemkab Sintang Evakuasi 45 Orang Eks Gafatar

oleh
oleh
????????????????????????????????????

SINTANG, SKR.COM – Pemerintah Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, di Backup TNI dan Polisi evakuasi 45 orang eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Kecamatan Binjai Hulu, Selasa (19/01/2016).

Tim Gabungan Saat Evakuasi Eks Gafatar
(Tim Gabungan Saat Evakuasi Eks Gafatar)

Evakuasi tersebut merujuk pada hasil rapat Forkompinda kemarin (Senin-red) di raungan Sekretaris Dearah Kabupaten Sintang.

Menurut Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sintang, F.Kaha, S.Pd, evakuasi tersebut untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang terburuk.

Karena beberapa hari yang lalu, eks Gafatar di Kabupaten Mempawah sudah di ultimatum oleh masyarakat untuk meninggalkan tempat tinggal mereka, bahkan diduga mobil milik eks anggota Gafatar di bakar massa.

“Kita tidak mau kejadian serupa terjadi di Kabupaten Sintang ini, jelas Kaha.

Lanjut Kaha, karena ini bencana sosial maka Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasilah yang menanganinya, termasuk makan, minum serta mengurus surat menyurat untuk melengkapi data mereka.

(Eks Gafatar Saat di Evakuasi)
(Eks Gafatar Saat di Evakuasi)

“Data mereka kita urus semua, setelah diurus datanya maka 45 eks anggota Gafatar ini kita kembalikan kekampung halaman mereka di pulau jawa”.

Terkait lamanya pemanpungan 45 eks anggota Gafatar di Loka Bina Karya (LBK), menurut Kaha maksimal satu bulan dan bisa juga satu minggu ataupun dua minggu, tapi yang jelas minimal satu bulan.

“Kita tampung disini maksimal satu bulan, jika lebih dari satu bulam maka bukan lagi menjadi bencana sosial”, jelas Kaha.

Sementara itu Rohim (48) mengakui sebelumnya ia bergabung di organisasi Gafatar, namun semenjak ia berada di Sintang tidak lagi pernah komunikasi dengan organisasi tersebut.

“Saya sudah dua tahun di Sintang dan tidak pernah komunikasi lagi dengan organisasi Gafatar”, jelas Rohim.

Lanjut Rohim, tujuan kami kesini kan untuk bertani,tidak ada tujuan lain, kami pun bergaul baik dengan masyarakat,dan identitas kependudukan kami jelas “ Kata Rohim.

Rohim mengaku  tidak tahu Informasi tentang Gafatar terakhir karena tidak memiliki televisi maupun radio, hidup di kampung tanpa sinyal hand phone sehingga komunikasi  sulit.

“ Kami juga bingung karena kami sudah bubar dan sudah lama tidak mensosialisasikan Gafatar lagi, tiba-tiba ada informasi buruk mengenai Gafatar,” Jelas Rohim.

Ia juga menyatakan sepengetahuanya tidak ada ajaran Gafatar yang buruk semua normal dengan ajaran yang benar, tidak boleh mencuri, berbuat jahat, tidak boleh berzina dan lain-lain.

Rohim dan 45  jiwa lainya saat ini mengaku tidak memiliki tempat tinggal lagi di tempat lamanya sebab telah di jual untuk pindah ke Sintang, terangnya. (DD/TH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *